BERIMAN DI TENGAH
MASYARAKAT DALAM HUBUNGAN DENGAN CITA-CITA SEORANG GURU AGAMA
(Sebuah Refleksi)
Seorang siswa
ditanya tentang apa saja mata pelajaran yang favorit dan yang tidak favorit di
sekolahnya dan apa alasannya. Ia menjawab beberapa yang tidak favorit, salah
satunya adalah mata pelajaran agama Katolik. Menurutnya, pelajaran agama,
berbeda dengan pelajaran lainnya, tidak dapat memberi orientasi pekerjaan
ataupun jurusan perkuliahan setelah lulus nantinya.
Potret cerita
di atas adalah salah satu tantangan guru agama zaman ini. Berbicara tentang
iman, agama dan Tuhan tampaknya menjadi tidak mudah. Bukan pertama-tama karena
materi yang tidak menarik, tetapi sebagian besar merasa bahwa belajar agama
tidak relevan bagi hidup mereka. Persoalan iman, Tuhan dan agama dipandang
sebagai hal yang terlalu jauh dengan kehidupan konkrit sehari-hari. Di sinilah peran
guru agama dipertaruhkan. Bagaimana menemani siswa dalam perkembangan imannya,
terutama di sekolah?
Belajar agama
dan beragama adalah dua hal yang berbeda. Belajar agama dimaksudkan untuk
menambah pengetahuan seseorang tentang agama, sedangkan beragama ditujukan bagi
peningkatan penghayatan iman dalam praktik hidup sehari-hari. Apakah keduanya
perlu dibedakan? Seharusnya tidak, karena baik aspek pengetahuan maupun
penghayatan iman merupakan dua hal yang utuh dan perlu dikembangkan
bersama-sama. Namun, yang kerapkali terjadi tidaklah demikian. Penekanan pada
salah satu aspek seolah-olah membuat pemisahan yang tegas di antara keduanya
seperti yang terjadi dalam mata pelajaran agama di sekolah. Penekanan seluruh
proses pendidikan di sekolah adalah pencapaian kedalaman pengetahuan yang
ditunjukkan dengan nilai ujian yang memuaskan. Dalam mata pelajaran agama juga
diberlakukan orientasi yang sama, yakni pencapaian nilai yang memuaskan bagi
para siswanya sehingga kerapkali mengabaikan dimensi praksis iman yang nyata.
Padahal, kedalaman pengetahuan iman siswa tidak berhenti hanya sebagai
informasi pengetahuan, tetapi pada akhirnya diharapkan memberi dampak perubahan
yang nyata di tengah masyarakat.
Perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini begitu pesat. Kita bisa melihat dengan
mata kepala sendiri pengaruhnya sungguh besar bagi bangsa ini terutama untuk
anak-anak sebagai penerus bangsa ini di kemudian hari nanti. Karena itu dalam
usaha untuk membentuk karakter bangsa ini diupayakan untuk masuk pada upaya
membentuk karakter anak bangsa dari segi pembinaan anak-anak di bangku sekolah
terutama membekali anak-anak atau peserta didik dengan pengetahuan agama dan
pembentukan kepribadian dalam kehidupan. Ini menjadi dasar pijakan bagi setiap
pribadi agar dalam praktek hidup sehari-hari seseorang dapat berlaku
sebagaimana mestinya yang diharapkan oleh para pembina, orang tua, guru maupun
lingkungan masyarakat sekitarnya. Ini bukanlah tugas yang gampang bagi seorang guru
agama Katolik . Dibutuhkan kerja keras dalam mendampingi dan membina anak-anak
bangsa serta membekali mereka dengan dasar pengetahuan maupun iman yang kokoh
agar mereka dapat tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang baik.
Guru Agama
Katolik adalah awam yang terlibat untuk ambil bagian dalam tugas kenabian Yesus
Kristus yang hidup di tengah masyarakat dan terlibat dalam dinamika kehidupan
masyarakat. Yang menjadi misi Guru Agama Katolik adalah mewartakan kabar
gembira dan menyampaikan ajaran katolik yang berpusat pada pribadi Yesus
Kristus, khususnya di sekolah dan berjuang agar warta keselamatan ilahi
dihayati oleh anak didik demi pengembangan imannya. Dalam kehidupan
sehari-hari, Guru agama Katolik harus bisa menjadi idola dan teladan bagi
para muridnya di sekolah dengan mengembangkan sikap penuh kasih, sabar dan
murah hati. Selain itu, guru agama
Katolik hendaknya juga terlibat aktif dalam hidup menggereja.
Faktor
terpenting bagi seorang Guru Agama Katolik adalah kepribadiannya. Kepribadian
inilah yang akan menentukan apakah ia menjadi pendidik dan pembina yang
baik bagi anak didiknya ataukah akan menjadi perusak atau penghancur bagi hari
depan anak didik. Kepribadian adalah suatu cerminan dari citra seorang Guru
Agama Katolik dan akan mempengaruhi interaksi antara Guru dan anak didik. Oleh
karena itu kepribadian merupakan faktor yang menentukan tinggi rendahnya
martabat Guru Agama Katolik. Kepribadian Guru Agama Katolik akan tercermin
dalam sikap dan perbuatannya dalam membina dan membimbing anak
didik. Semakin baik kepribadian dan dedikasinya dalam menjalankan tugas
dan tanggung jawabnya sebagai pendidik, ini berarti tercermin suatu
dedikasi yang tinggi dari Guru Agama Katolik dalam melaksanakan tugas dan
fungsinya sebagai pendidik.
Aspek-aspek
tersebut di atas merupakan potensi kepribadian sebagai syarat
mutlak yang harus dimiliki oleh seorang Guru Agama Katolik
dalam melaksanakan profesinya. Karena tanpa aspek tersebut sangat
tidak mungkin mereka dapat melaksanakan tugas sesuai dengan harapan.
Kepribadian dan dedikasi yang tinggi dapat meningkatkan kesadaran akan
pekerjaan dan mampu menunjukkan kinerja yang memuaskan seseorang atau
kelompok dalam suatu organisasi. Guru Agama Katolik yang memiliki kepribadian
yang baik dapat membangkitkan kemauan untuk giat memajukan profesinya dan
meningkatkan dedikasi dalam melakukan pekerjaan mendidik sehingga dapat
dikatakan Guru tersebut memiliki akuntabilitas yang baik. Dengan kata lain
prilaku akuntabilitas meminta agar pekerjaan itu berakhir dengan hasil baik
yang dapat memuaskan pihak-pihak yang berkepentingan.
Kehadiran
seorang guru agama bisa membentuk iman dan karakter lewat pendekatan pelayanan
pastoral. Jika diperhadapkan dengan guru-guru lain maka di balik guru agama ada sesuatu yang
maha dasyat dimana karya pastoral bisa dikerjakan demi pembentukan karakter dan
iman umat.
Namun
di tengah galaunya dunia modern yang semakin didera krisis moral, tantangan
guru agama pun semakin berat. Kehadiran umat dalam perayaan Ekaristi hari
Minggu yang semakin menurun cukup untuk menjadi alasan betapa memprihatinkan
kondisi iman zaman sekarang. Lagi-lagi beban untuk seorang guru agama.
Pengajaran iman di sekolah tak lagi cukup untuk menjadikan anak berkembang dalam
iman yang baik. Apalagi jika kehidupannya dipengaruhi oleh lingkungan yang juga
tak lagi peduli dengan kehidupan iman. Harapan seorang guru agama untuk
membentuk karakter anak sejak dini menjadi mubazir dihimpit tantangan zaman.
Meskipun
demikian menjadi guru agama katolik adalah panggilan dan pilihan, maka yang
terpenting adalah bagaimana kita mau bersikap konsekuen terhadap panggilan dan
pilihan tersebut di tengah segudang tantangan yang setiap saat selalu datang
menghadang. Tuhan pasti akan menunjukkan jalan bagi setiap umat yang mewartakan
Kerajaan-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
berikan komentar yang bersifat positif konstruktif