Selasa, 03 Maret 2015

BERIMAN DI TENGAH MASYARAKAT DALAM HUBUNGAN DENGAN CITA-CITA SEORANG GURU AGAMA (dimaz)

BERIMAN DI TENGAH MASYARAKAT DALAM HUBUNGAN DENGAN CITA-CITA SEORANG GURU AGAMA
(Sebuah Refleksi)

Seorang siswa ditanya tentang apa saja mata pelajaran yang favorit dan yang tidak favorit di sekolahnya dan apa alasannya. Ia menjawab beberapa yang tidak favorit, salah satunya adalah mata pelajaran agama Katolik. Menurutnya, pelajaran agama, berbeda dengan pelajaran lainnya, tidak dapat memberi orientasi pekerjaan ataupun jurusan perkuliahan setelah lulus nantinya.
Potret cerita di atas adalah salah satu tantangan guru agama zaman ini. Berbicara tentang iman, agama dan Tuhan tampaknya menjadi tidak mudah. Bukan pertama-tama karena materi yang tidak menarik, tetapi sebagian besar merasa bahwa belajar agama tidak relevan bagi hidup mereka. Persoalan iman, Tuhan dan agama dipandang sebagai hal yang terlalu jauh dengan kehidupan konkrit sehari-hari. Di sinilah peran guru agama dipertaruhkan. Bagaimana menemani siswa dalam perkembangan imannya, terutama di sekolah?
Belajar agama dan beragama adalah dua hal yang berbeda. Belajar agama dimaksudkan untuk menambah pengetahuan seseorang tentang agama, sedangkan beragama ditujukan bagi peningkatan penghayatan iman dalam praktik hidup sehari-hari. Apakah keduanya perlu dibedakan? Seharusnya tidak, karena baik aspek pengetahuan maupun penghayatan iman merupakan dua hal yang utuh dan perlu dikembangkan bersama-sama. Namun, yang kerapkali terjadi tidaklah demikian. Penekanan pada salah satu aspek seolah-olah membuat pemisahan yang tegas di antara keduanya seperti yang terjadi dalam mata pelajaran agama di sekolah. Penekanan seluruh proses pendidikan di sekolah adalah pencapaian kedalaman pengetahuan yang ditunjukkan dengan nilai ujian yang memuaskan. Dalam mata pelajaran agama juga diberlakukan orientasi yang sama, yakni pencapaian nilai yang memuaskan bagi para siswanya sehingga kerapkali mengabaikan dimensi praksis iman yang nyata. Padahal, kedalaman pengetahuan iman siswa tidak berhenti hanya sebagai informasi pengetahuan, tetapi pada akhirnya diharapkan memberi dampak perubahan yang nyata di tengah masyarakat.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini begitu pesat. Kita bisa melihat dengan mata kepala sendiri pengaruhnya sungguh besar bagi bangsa ini terutama untuk anak-anak sebagai penerus bangsa ini di kemudian hari nanti. Karena itu dalam usaha untuk membentuk karakter bangsa ini diupayakan untuk masuk pada upaya membentuk karakter anak bangsa dari segi pembinaan anak-anak di bangku sekolah terutama membekali anak-anak atau peserta didik dengan pengetahuan agama dan pembentukan kepribadian dalam kehidupan. Ini menjadi dasar pijakan bagi setiap pribadi agar dalam praktek hidup sehari-hari seseorang dapat berlaku sebagaimana mestinya yang diharapkan oleh para pembina, orang tua, guru maupun lingkungan masyarakat sekitarnya. Ini bukanlah tugas yang gampang bagi seorang guru agama Katolik . Dibutuhkan kerja keras dalam mendampingi dan membina anak-anak bangsa serta membekali mereka dengan dasar pengetahuan maupun iman yang kokoh agar mereka dapat tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang baik.
Guru Agama Katolik adalah awam yang terlibat untuk ambil bagian dalam tugas kenabian Yesus Kristus yang hidup di tengah masyarakat dan terlibat dalam dinamika kehidupan masyarakat. Yang menjadi misi Guru Agama Katolik adalah mewartakan kabar gembira dan menyampaikan ajaran katolik yang berpusat pada pribadi Yesus Kristus, khususnya di sekolah dan berjuang agar warta keselamatan ilahi dihayati oleh anak didik demi pengembangan imannya. Dalam kehidupan sehari-hari, Guru agama Katolik harus bisa menjadi idola dan teladan bagi para muridnya di sekolah dengan mengembangkan sikap penuh kasih, sabar dan murah hati. Selain itu,  guru agama Katolik hendaknya juga terlibat aktif dalam hidup menggereja.
Faktor terpenting bagi seorang Guru Agama Katolik adalah kepribadiannya. Kepribadian inilah yang akan menentukan apakah ia menjadi pendidik dan pembina yang baik bagi anak didiknya ataukah akan menjadi perusak atau penghancur bagi hari depan anak didik. Kepribadian adalah suatu cerminan dari citra seorang Guru Agama Katolik dan akan mempengaruhi interaksi antara Guru dan anak didik. Oleh karena itu kepribadian merupakan faktor yang menentukan tinggi rendahnya martabat Guru Agama Katolik. Kepribadian Guru Agama Katolik akan tercermin dalam sikap dan perbuatannya dalam membina dan membimbing anak didik. Semakin baik kepribadian dan dedikasinya dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pendidik, ini berarti tercermin suatu dedikasi yang tinggi dari Guru Agama Katolik dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai pendidik.
Aspek-aspek tersebut di atas merupakan potensi kepribadian sebagai syarat mutlak  yang harus dimiliki oleh seorang Guru Agama Katolik dalam  melaksanakan profesinya. Karena tanpa aspek tersebut sangat tidak mungkin mereka dapat melaksanakan tugas sesuai dengan harapan. Kepribadian dan dedikasi yang tinggi dapat meningkatkan kesadaran akan pekerjaan dan mampu menunjukkan kinerja yang memuaskan seseorang atau kelompok dalam suatu organisasi. Guru Agama Katolik yang memiliki kepribadian yang baik dapat membangkitkan kemauan untuk giat memajukan profesinya dan meningkatkan dedikasi dalam melakukan pekerjaan mendidik sehingga dapat dikatakan Guru tersebut memiliki akuntabilitas yang baik. Dengan kata lain prilaku akuntabilitas meminta agar pekerjaan itu berakhir dengan hasil baik yang dapat memuaskan pihak-pihak yang berkepentingan.
Kehadiran seorang guru agama bisa membentuk iman dan karakter lewat pendekatan pelayanan pastoral. Jika diperhadapkan dengan guru-guru  lain maka di balik guru agama ada sesuatu yang maha dasyat dimana karya pastoral bisa dikerjakan demi pembentukan karakter dan iman umat.
            Namun di tengah galaunya dunia modern yang semakin didera krisis moral, tantangan guru agama pun semakin berat. Kehadiran umat dalam perayaan Ekaristi hari Minggu yang semakin menurun cukup untuk menjadi alasan betapa memprihatinkan kondisi iman zaman sekarang. Lagi-lagi beban untuk seorang guru agama. Pengajaran iman di sekolah tak lagi cukup untuk menjadikan anak berkembang dalam iman yang baik. Apalagi jika kehidupannya dipengaruhi oleh lingkungan yang juga tak lagi peduli dengan kehidupan iman. Harapan seorang guru agama untuk membentuk karakter anak sejak dini menjadi mubazir dihimpit tantangan zaman.

Meskipun demikian menjadi guru agama katolik adalah panggilan dan pilihan, maka yang terpenting adalah bagaimana kita mau bersikap konsekuen terhadap panggilan dan pilihan tersebut di tengah segudang tantangan yang setiap saat selalu datang menghadang. Tuhan pasti akan menunjukkan jalan bagi setiap umat yang mewartakan Kerajaan-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

berikan komentar yang bersifat positif konstruktif