Rabu, 15 Oktober 2014

REFLEKSI

Refleksi:
post by: dimas EXPYDI
disadur dari: detikSport.  akun @Rossifinza

REFLEKSI

Maafkanlah kami yang tua-tua ini, Dik. Ketika kami punya harapan yang kelewat tinggi, kami terpaksa menggelayutkannya di pundak kalian.

Tentu ini bukan salah kalian juga, Dik. Anggap saja ini sudah jadi tulisan nasib. Kalian lahir di tempat di mana hasrat soal permainan itu muncul begitu menggebu-gebu. Tapi, untuk mencari kebanggaan di antara hasrat yang menggebu-gebu itu, amat sangat sulit. Tulisan nasib juga yang akhirnya menyiratkan bahwa kebanggaan itu ada di dalam diri kalian.

Kami sudah mencari segala cara untuk mereguk kebanggaan, Dik, namun tak kunjung berhasil. Sampai kaki kami lemah dan suara kami habis, apa yang kami harap-harap tidak kunjung berhasil.

Tentu, ada rasa malu tersendiri ketika kami yang tua-tua ini mulai gagal, mulai hilang akal dan putus asa untuk mencari kebanggaan. Di saat itulah, Dik, kami berpaling pada kalian.

Di tempat ini, yang ada hanyalah kelesuan demi kelesuan. Kami yang tua-tua ini seakan-akan tidak pernah belajar bagaimana menghindar dari kelesuan yang tidak berkesudahan. Mungkinlah otak kami yang sudah tua-tua ini sudah kelewat bebal dan tumpul untuk belajar. Tapi, tidak dengan kalian.

Anggap saja begini, Dik: Semakin tua seseorang, semakin dekat dia dengan atap yang akan digapainya. Makin tua seseorang, makin dia tumbuh, makin sadar pula dia dengan batas-batasnya.

Ini membuat pikiran yang tua-tua seperti kami ini, Dik, menjadi lebih rumit. Pikiran-pikiran yang kelewat rumit itulah yang biasanya membuat kami jadi malas. Melihat yang susah sedikit, kami jadi enggan. Tapi, tidak dengan kalian.

Begini, Dik. Tubuh-tubuh muda kalian masih bisa bertambah besar lagi. Atap-atap kalian masih jauh. Batas-batas itu masih belum terlihat. Benak kalian setidaknya masih belum terkena tuba. Belum ada pikiran rumit atau keenggan-keengganan yang tidak masuk akal.

Untuk itu, Dik, bebaskanlah. Bermainlah... Bermainlah dengan penuh kegembiraan.

Permainan itu, main bola namanya. Simak betul-betul dua kata yang saling bergandengan itu: main bola. Main dan bola. Perhatikan betul-betul kata pertamanya: main. Dari kata itu, kita sudah tahu maknanya, bahwa main adalah sesuatu yang dilakukan untuk menyenangkan hati. Untuk bersenang-senang.

Untuk itu, bersenang-senanglah. Ingatlah debu-debu di lapangan butut yang mungkin pernah kalian jarah dengan kaki-kaki telanjang. Atau mungkin bola-bola plastik yang kerap penyok karena kaki kalian saling beradu satu sama lain.

Main bola itu memang begitu, diawali oleh keriaan dan diselipi oleh kegembiraan. Dan untuk kalian, Dik, kami harapkan akan tetap begitu seterusnya.

Bermainlah untuk kesenangan hati. Bukan kesenangan hati kami, melainkan kesenangan hati kalian sendiri.

Silakan lupakan harapan yang kami gelayutkan di pundak kalian itu. Kalian tidak bertanggungjawab apa-apa kepada kami yang sudah tua ini. Malahan, kamilah seharusnya yang bertanggungjawab kepada kalian yang masih piyik ini. Kamilah yang seharusnya membangun jalan untuk kalian, dan bukan sebaliknya.

Jikalau kebanggaan itu nantinya berhasil kalian dapatkan, silakan klaim sesuka hati kalian. Reguk puas-puas. Kami mungkin akan mencicipinya sedikit, itu pun kalau boleh.

Kebanggaan, Dik, jika kalian bisa menggapainya, akan jadi sesuatu yang layak kalian kenang-kenang. Akan jadi cerita yang mungkin tidak akan habis kalian bagi-bagi sampai kalian menua kelak.

Tapi, untuk saat ini, bebaskanlah pundak kalian. Entengkanlah langkah kaki kalian. Jikalau di lapangan ini kalian tertunduk, ingatlah bahwa masih ada banyak lapangan lainnya. Ingatlah bahwa masih ada banyak lapangan di luar sana yang menunggu untuk dijamah kaki-kaki kalian.

Ingatlah bahwa atap itu masih jauh dari jangkauan kalian, batas-batas itu masih jauh dari penglihatan kalian.


====

Minggu, 06 Juli 2014

Pendidikan Karakter Bangsa



18 Nilai dalam Pendidikan Karakter Bangsa
 Post by: Dismas Metodius
07/07/2014
Pendidikan Karakter
Ada 18 nilai-nilai dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa yang dibuat oleh Diknas.  Mulai tahun ajaran 2011, seluruh tingkat pendidikan di Indonesia harus menyisipkan pendidikan berkarakter tersebut dalam proses pendidikannya.
18 nilai-nilai dalam pendidikan karakter menurut Diknas adalah:
1.      Religius
Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
2.      Jujur
Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
3.      Toleransi
Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
4.      Disiplin
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
5.      Kerja Keras
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
6.      Kreatif
Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.
7.      Mandiri
Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
8.      Demokratis
Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
9.      Rasa Ingin Tahu
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.
10.  Semangat Kebangsaan
Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
11.  Cinta Tanah Air
Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
12.  Menghargai Prestasi
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
13.  Bersahabat/Komunikatif
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
14.  Cinta Damai
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
15.  Gemar Membaca
Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
16.  Peduli Lingkungan
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
17.  Peduli Sosial
Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
18.  Tanggung Jawab
Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.











































PENGERTIAN PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA | DEFINISI PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA (by: dismas metodius)

Posted by Jufry Malyno
A. PENGERTIAN / DEFINISI KARAKTER
Yang dimaksud dengan Karakter adalah  Sifat seseorang yang mencakup perilaku, kebiasaan, kesukaan, kemampuan, bakat, potensi, nilai-nilai, dan pola pikir. Kepribadian  itu sendiri adalah  bersifat khas individu dan karakter dimiliki secara komunal.

B. PENGERTIAN / DEFINISI BANGSA
Yang dimaksud dengan Bangsa adalah Sekelompok manusia yang mau bersatu, merasa dirinya bersatu, memiliki kesamaan nasib, asal keturunan, bahasa, adat, sejarah bangsa akan jika disertai pemerintahan sendiri. 

C. PENGERTIAN / DEFINISI KARAKTER BANGSA
 Dari uraian diatas, kemudian dapat disimpulkan bahwa Karakter Bangsa adalah Keseluruhan sifat suatu bangsa yang mencakup perilaku, kebiasaan, kesukaan, kemampuan, bakat, potensi, nilai-nilai, dan pola pikir yang dimiliki oleh bangsa tersebut.

D. PENGERTIAN / DEFINISI PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA
Upaya sadar untuk memperbaiki, meningkatkan seluruh perilaku yang mencakup adat istiadat, nilai-nilai, potensi, kemampuan, bakat, dan pikiran bangsa Indonesia