Kamis, 08 November 2018

 Idealisme Sarjana Pertanian Wahana Pembelajaran Bagi yang Pragmatis

(By: Metodius Dismas, S.Fil)


Petani itu adalah seorang yang berkeyakinan baik, orang yang bermoral tinggi, dan memiliki cinta kepada kebebasan yang kokoh

Kerja seorang guru tidak ubah seperti kerja seorang petani yang sentiasa membuang duri serta mencabut rumput yang tumbuh di celah-celah tanamannya


Pernahkah kita berterima kasih kepada para petani penanam benih? Keramahan yang putih, ketulusan yang tak pernah menagih.

Foto diambil Penulis (Loc: in Rotat)

Namanya Bapak Egidius L. Moat Paji. Akrab disapa Erri. Kepribadian simpel, ramah (friendship), murah senyum, ganteng, santun.  Tinggal di Rotat, Desa Ladogahar, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka. Beliau seorang sarjana pertanian dan menjadi salah-satu (meskipun saya belum kenal yang lainnya) lulusan pertanian yang memilih tetap berkecimpung di sektor yang dipelajarinya saat masih berkuliah itu, meskipun juga berkecimpung pada posisi kerja kantoran lainnya.

Mari sedikit berteori

       Mengapa sarjana pertanian penting membangun sektornya? Karena merekalah yang memiliki kapasitas itu, mereka yang memiliki ilmunya. Dengan keilmuannya, seyogyanya lulusan pertanian mempunyai peran strategis membangun bidangnya. 

       Mantan menteri pertanian Indonesia, Pak Anton Apriyantono pernah berkata: “Jangan pernah bermimpi pertanian Indonesia akan maju, selama pembangunan pertanian masih kalian serahkan kepada petani yang hanya lulusan SD.” 

       Realitas itu seharusnya telah memberikan cukup alasan agar pragmatisme sarjana pertanian harus dapat diubah. Ah, lagi-lagi ini terlalu idealis. Terlalu melangit, mengawang. Ini kalimat yang biasa dilontarkan teman sebayaku. 
       Kalau begitu, mari kita lebih realistis.

Bangsa kita adalah negara agraris dan maritim. Sektor pertanian memegang peran penting dalam menyumbang pemasukan bagi negara. Data Badan Pusat Statistik menyebutkan sumbangsih sektor pertanian terhadap pemasukan domestik bruto tahun 2011 sebesar 14.7%, kedua setelah sektor industri pengolahan. Sektor pertanian juga menyumbang setengah dari pengurangan kemiskinan dan menjadi sektor yang bertahan saat krisis moneter 1998. 

Kalau saya cermati, pola yang dilakukan Bpk Egidius, kira-kira begini: beliau bisa mengemas suatu gagasan yang idealis menjadi program yang bisa menarik perhatian banyak orang. Secara substansial yg beliau tawarkan adalah membumikan teori, menunjukkan kepada banyak orang, bahwa profesi petani itu mulia. Yang penting, kerja keras, kerja cerdas. Menunjukkan kepada banyak orang tentang bagaimana mengolah tanah, menanam seuatu yang bisa menghasilkan pemasukkan lumayan, itulah poinnya. Bahkan, jika oranglain membuka mata dan berani menanggalkan gengsi untuk berdiskusi, mungkin saja Bpk Egidius bida menjadi voluntir (sukarelawan) yang siap membantu membangunkan lahan tidur lainnya.  Jadi, kenampakan pengolahan lahan yang rapi dan menjanjikan yang dibuat oleh Bpk Egidius, bukan sebuah pemandangan yang menuntut orang bergumam wwoww gitu, dan selesai, tetapi membangun niat untuk belajar untuk memperbaiki sistem sendiri, sehingga, profesi petani  tetap bernilai, tetap memikat, dan yang pasti tetap realistis.   



Dari kemauan untuk belajar, kita mampu mengembangkan ide, bangun komunitas, bangun sistem, dan kelola sistem kelola lahan.  Inilah  sinergi. Jika sinergi maka akan lebih menggerakkan. Di sini para idealis sarjana pertanian bisa berhimpun mengambil peran sebagai penggerak untuk membuat program serupa. Mereka bisa menjadi  tenaga voluntir, untuk ritme pertanian sekitarnya. 



Akan tetapi mustahil hal itu bisa diimplementasikan jika kesadaran personal tak pernah muncul dihati banyak pihak.  Lucunya lagi, bukan dijadikan sebagai bahan pembelajaran, malah dijadikan bahan ledekan dan candaan yang notabene sangat-sangat tidak bermanfaat. 


Melawan realitas itu memang sulit jika sendiri, akan tetapi kumpulan para idealis bisa saling melengkapi dan bergerak mensolusikan pragmatisme. Agar kau bisa tetap lantang berkata seperti Soe Hok Gie, "Saya sudah lama memutuskan harus menjadi idealis sampai batas sejauh-jauhnya." Saya optimis idealisme dan realitas bukan selalu untuk dibenturkan, mereka masih bisa dipertemukan. Pertanian Indonesia dan di Desa Ladogahar masih punya harapan.  (Mengutip: Murdiati Soedarno Soewarno dalam  Mencari Sarjana Pertanian Indonesia).






Ket: Gambar-gambar ini diabadikan penulis di perkebunan milik Bpk Egidius, pinggir jalan Rotat-Natwulu, Desa Ladogahar, Kecamatan Nita, kabupaten Sikka.